Culture

Debat Panas di Jepang: Animator Hidup Susah, Cosplayer Kaya Raya?

Debat Panas di Jepang: Animator Hidup Susah, Cosplayer Kaya Raya?

Sebuah luka lama kembali terbuka di media sosial, mengekspos kesenjangan brutal antara gaji para animator dengan pendapatan cosplayer terkenal. Perdebatan ini kembali mencuat setelah sebuah postingan viral menunjukkan kebenaran yang tidak nyaman: mereka yang menggambar frame demi frame seri favorit kalian berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup, sementara bintang-bintang konten sekunder (seperti cosplayer) meraup untung miliaran berkat karya yang sama.

Enako dan Kesenjangan Pendapatan yang Fantastis

Pemicu utama keributan ini adalah penyebutan nama Enako, cosplayer paling terkenal di Jepang. Data yang beredar menunjukkan perbedaan angka yang sangat mencolok:

  • Pendapatan Tahunan Enako: Sekitar 100 juta Yen (sekitar US$ 1 Juta).
    • Konversi Rupiah: Sekitar Rp 10,8 Miliar.
  • Gaji Rata-rata Animator: Berkisar antara 3 hingga 4 juta Yen per tahun (sekitar US$ 20.000).
    • Konversi Rupiah: Sekitar Rp 324 juta hingga Rp 432 juta per tahun.

Perbedaan pendapatan yang mencapai 30 kali lipat ini tentu saja memicu rasa frustrasi. Banyak netizen yang bertanya-tanya, “Apakah adil jika pencipta aslinya hidup dalam kemiskinan sementara pasar sekundernya menjadi kaya raya?” Perasaan “mojamoja” (rasa tidak nyaman atau ganjalan di hati) ini semakin sulit untuk diabaikan oleh para penggemar.

Baca jugaPeru Memang Beda! Balapan Cosplay “Umamusume” Pertama di Amerika Latin Siap Digelar di Arena Pacuan Kuda Asli

Bukan Salah Cosplayer, Tapi Salah Sistemnya

Meskipun perbandingan ini terasa menyakitkan, para ahli dan penggemar bijak mengingatkan bahwa penjahatnya bukanlah si cosplayer. Masalah sebenarnya terletak pada sistem Komite Produksi (Production Committees).

Sistem ini mendistribusikan keuntungan sedemikian rupa sehingga uang dalam jumlah besar hampir tidak pernah sampai ke tangan studio animasi, apalagi ke para pekerja tingkat dasar (animator). Sementara industri membiarkan (dan bahkan mendapat untung dari) promosi gratis yang dilakukan oleh para cosplayer, mereka terus gagal melindungi seniman mereka sendiri dari eksploitasi kerja.

Perdebatan ini menyisakan pertanyaan besar: Apakah cosplayer seharusnya membayar royalti kepada studio untuk menyeimbangkan keadaan? Atau sistem penggajian industri anime yang harus dirombak total?

Via SomosKudasai


Bacaan Lebih Lanjut
Komentar