Halo Geeks! Kabar menarik datang dari salah satu petinggi terbesar di industri buku komik dunia. Jim Lee, sosok legendaris yang menjabat sebagai Presiden, Chief Creative Officer, dan Penerbit di DC Comics, baru saja angkat bicara mengenai fenomena meledaknya popularitas manga dan anime Jepang yang kini mendominasi pasar global, bahkan mengungguli komik Barat.
Dalam wawancaranya bersama Nikkei XTrend, Jim Lee membedah alasan mengapa anak muda zaman sekarang lebih memilih membaca One Piece atau My Hero Academia dibandingkan komik superhero tradisional Amerika.
Berikut adalah poin-poin penting dari analisis sang bos DC tersebut.
1. Keinginan Memiliki Sesuatu yang “Unik Milik Sendiri”
Menurut Jim Lee, ledakan konten Asia (termasuk manga dan anime) tidak terjadi secara kebetulan. Salah satu faktor psikologis utamanya adalah keinginan generasi muda untuk menemukan sesuatu yang benar-benar “unik milik mereka sendiri” (uniquely their own).
Anak muda cenderung ingin mengonsumsi sesuatu yang berbeda dari apa yang dinikmati orang tua mereka atau sekadar mewarisi tren yang sudah ada sebelumnya. Manga menawarkan kesegaran dan identitas baru yang berbeda dari budaya pop Barat yang sudah mapan selama puluhan tahun.
2. Manga Punya “Advantage” dalam Genre
Lee mengakui dengan jujur bahwa manga memiliki keunggulan (advantage) yang signifikan dibandingkan komik Amerika.
- Komik Amerika: Mayoritas penjualan dan pembacanya terkonsentrasi hanya pada genre superhero.
- Manga Jepang: Lebih dekat dengan konsep “literatur” atau sastra. Siapa pun bisa membacanya karena genrenya sangat luas. Tidak hanya soal pahlawan, ada cerita tentang memasak, sepak bola, dan banyak lagi.
“Cerita yang disampaikan dalam manga dan anime Jepang sangatlah kuat. Saya sering bertanya-tanya, ‘Apa yang hilang dari komik Barat, dan mengapa mereka tidak bisa mencapai cita rasa yang sama?'” — Jim Lee.
Lee menambahkan bahwa keberhasilan manga memberinya sebuah “tujuan” (goal) untuk dikejar. Ia menyadari bahwa pasar manga kini lebih besar dari industri komik Amerika, sehingga pertanyaannya sekarang adalah: “Apa yang bisa kita pelajari dari sini?”
3. Persepsi Budaya: “Anak-Anak” vs “Seni”
Poin krusial lainnya adalah bagaimana masyarakat memandang medium ini.
- Di Barat: Komik dan animasi sering kali dianggap sebagai “media anak-anak” (children’s media). Saat orang beranjak dewasa, mereka diharapkan beralih ke tontonan live-action.
- Di Jepang: Hal ini tidak berlaku. Orang dewasa tetap membaca manga dan menonton anime. Secara budaya, ini dianggap sebagai “seni” (art) yang tidak dibatasi oleh kelompok usia tertentu.
4. Siklus Popularitas Manga di Barat
Lee juga menyinggung tentang sejarah siklus popularitas manga di pasar Amerika.
- Booming 90-an: Manga sempat meledak besar.
- Kejatuhan (Bust) 2000-an: Terjadi penurunan di pertengahan hingga akhir 2000-an karena berbagai faktor seperti kejenuhan pasar (market oversaturation), penurunan kualitas, pembajakan internet, dan krisis finansial yang juga berdampak pada penutupan toko buku.
- Kebangkitan Kembali: Penjualan manga mulai tumbuh lagi berturut-turut pada 2013 dan 2014, berlanjut stabil sepanjang 2010-an, dan mengalami ledakan eksplosif (explosive boom) di era pandemi COVID-19.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan pandangan Bos DC Comics ini bahwa manga lebih variatif dan terasa lebih personal bagi generasi muda?
Via AnimeCorner, Source Nikkei XTrend
