Jujur saja, sampai sekarang saya masih belum bisa berhenti memikirkan satu hal yang mengganjal: Kenapa One Piece terus-menerus mengunci rapat isi konten dari Poneglyph dalam waktu yang begitu lama?
Rasanya ada pola penulisan tertentu yang membuat kita harus menunggu sangat lama hanya untuk mengetahui apa sebenarnya pesan yang tertulis di batu kuno tersebut.
Momen Emosional Joy Boy di Fish-Man Island
Coba kita kilas balik sebentar. Ketika Nico Robin akhirnya mengungkapkan isi Poneglyph di Fish-Man Island—khususnya tentang permintaan maaf dari Joy Boy—di akhir arc tersebut, dampaknya benar-benar luar biasa.
Pengungkapan itu terasa sangat menohok (hit hard) dan secara instan memberikan bobot emosional yang mendalam terhadap semua peristiwa yang baru saja kita saksikan di pulau tersebut. Itu bukan sekadar teks sejarah, tapi sebuah perasaan yang tersampaikan melintasi waktu.
Oda dan Seni “Lore Drop” Tanpa Spoiler
Momen-momen krusial seperti kejadian di Fish-Man Island itu membuktikan kapasitas sang mangaka. Eiichiro Oda terbukti bisa memberikan bocoran lore (cerita latar) tanpa harus “membunuh” misteri utamanya.
Malah sejujurnya, pengungkapan-pengungkapan kecil seperti itu membuat dunia One Piece terasa jauh lebih hidup. Kita jadi merasa bagian dari sejarah dunia tersebut, bukan hanya penonton pertarungan semata.
Bagaimana Jika Wano Berbeda?
Sekarang, mari kita berandai-andai. Bayangkan jika arc Wano berakhir dengan skenario serupa: Robin langsung membacakan isi Poneglyph-nya di sana, dan membiarkan kebenarannya meresap ke dalam cerita tepat di momen tersebut. Pasti sensasi dan kepuasannya akan terasa sangat berbeda dibandingkan sekadar menyimpannya untuk nanti, bukan?
