Halo sobat kreatif dan pecinta manga! Topik tentang Kecerdasan Buatan (AI) memang sedang panas-panasnya di industri seni. Kali ini, giliran sang legenda hidup, Rumiko Takahashi, yang memberikan pandangannya.
Kreator di balik mahakarya abadi seperti Ranma 1/2 dan Inuyasha ini baru saja melontarkan kritik yang cukup tajam namun elegan mengenai penggunaan AI dalam pembuatan manga. Pernyataan ini ia sampaikan saat melakukan kunjungan langka ke San Francisco untuk pameran “The Art of Manga”.
Takahashi-sensei menarik garis tegas antara teknologi dan seni murni: AI melihat ke masa lalu, sedangkan Mangaka melihat ke masa depan.

Data Lama vs. Inovasi Baru
Di usianya yang menginjak 68 tahun, Takahashi masih setia menggunakan metode tradisional: kertas, tinta, dan cat air. Dalam wawancara terbarunya, beliau mematahkan hype teknologi AI dengan refleksi yang sederhana namun “mematikan”.
“AI belajar dari masa lalu dan menciptakan data, tetapi manga bukanlah tentang mengulang apa yang sudah pernah digambar sebelumnya. Manga adalah proses memikirkan ide-ide baru secara terus-menerus. Mungkin arah tujuannya (antara AI dan manusia) memang berbeda,” ujar Takahashi.
Bagi sang maestro, esensi utama dari manga terletak pada inovasi yang konstan. Sesuatu yang menurutnya tidak bisa ditiru oleh algoritma yang hanya dilatih menggunakan karya-karya lama.
Meskipun begitu, beliau sempat bercanda dan mengakui bahwa dirinya sebenarnya ingin mencoba beradaptasi ke digital—terutama karena semakin sulitnya menemukan material gambar tradisional saat ini—namun proses kreatifnya tetaplah murni sentuhan manusia.
Rahasia Warisan Globalnya
Selain membahas AI, Takahashi juga merefleksikan alasan mengapa karya-karyanya bisa sukses secara global. Jawabannya bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada empati.
“Kami menggambar untuk pembaca Jepang… Mungkin karena itulah orang-orang (di luar Jepang) menemukan hal yang menarik dari perbedaan gaya hidup serta deskripsi mendetail tentang hati manusia,” tambahnya.
Bagaimana menurut kalian, Nakama? Apakah kalian setuju dengan pandangan “Sang Ratu Manga” bahwa AI tidak bisa menggantikan inovasi manusia?
Via SomosKudasai
