Jepang memang terkenal dengan budaya kerjanya yang unik, tapi tren yang satu ini benar-benar di luar dugaan.
Di Jepang, berhenti kerja bisa menjadi beban psikologis yang sangat berat. Banyak perusahaan menerapkan sistem kerja jangka panjang tanpa evaluasi kontrak berkala, sehingga momen untuk bilang “Kayaknya sudah waktunya saya pindah,” itu jarang terjadi secara alami. Ditambah lagi, budaya Jepang yang sangat menghindari konflik membuat karyawan enggan melakukan adegan dramatis “Saya keluar!” di depan semua orang, bahkan bagi mereka yang sudah sangat muak sekalipun.
Inilah alasan lahirnya Momuri.
Namanya diambil dari plesetan frasa Jepang “Mou muri” (artinya “Sudah nggak kuat lagi”). Momuri adalah layanan proxy pengunduran diri atau jasa perantara resign. Dengan membayar biaya antara 12.000 hingga 22.000 Yen (sekitar Rp1,2 juta – Rp2,3 juta), Momuri akan menghubungi atasanmu untuk memberitahu bahwa kamu berhenti, sekaligus mengurus semua dokumen yang diperlukan.
Namun, baru-baru ini Momuri mengungkap fakta mengejutkan: Ternyata bukan cuma karyawan yang menghubungi mereka, tapi bos perusahaan juga!
Fenomena Baru: Bos Ingin ‘Memecat’ Secara Halus?
Meskipun model bisnis Momuri dirancang untuk membantu individu yang ingin keluar dari pekerjaannya, perusahaan ini mengklaim sering dihubungi oleh pihak pemberi kerja (employer) yang ingin mengakhiri hubungan kerja dengan stafnya.
Dalam sebuah postingan di akun Twitter (X) resminya pada 31 Januari 2026, Momuri menulis:
“Kami secara rutin menerima permintaan seperti: ‘Kami ingin membuat salah satu karyawan kami berhenti, jadi bisakah kalian menelepon mereka untuk kami?'”
(“Uchi no shain wo yamesasetai node sono shain ni denwa wo kakete itadakitai no desuga, taio kano desho ka?”)
「うちの社員を辞めさせたいのでその社員に電話をかけていただきたいのですが、対応可能でしょうか?」
定期的に来ます。
— 退職代行モームリ (@momuri0201) January 31, 2026
Mengapa Bos Melakukan Ini?
Secara teori, layanan ini bisa menguntungkan pengusaha karena rumitnya hukum ketenagakerjaan di Jepang.
- Sulit Memecat: Di Jepang, memecat karyawan (layoff) karena alasan ekonomi atau performa yang “biasa saja” sangatlah sulit dan tabu, kecuali karyawan tersebut melakukan kesalahan fatal yang disengaja.
- Beban Gaji: Akibatnya, perusahaan sering kali terpaksa tetap menggaji karyawan yang tidak produktif karena takut melanggar aturan.
- Celah ‘Resign’: Semua masalah hukum dan stigma sosial itu akan hilang jika si karyawan sendiri yang memutuskan untuk mundur.
Jadi, jika manajemen Perusahaan X ingin menyingkirkan seorang karyawan tapi terhalang budaya atau hukum, menggunakan jasa pihak ketiga untuk “membisikkan” ide resign kepada karyawan tersebut bisa dianggap sebagai solusi praktis bagi mereka.
Masalah Etika
Tentu saja, taktik ini memicu banyak pertanyaan etis. Apakah etis jika atasan menyuruh pihak ketiga menghubungi pekerja untuk menekan mereka agar berhenti? Ini bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan di tempat kerja (workplace harassment).
Penting untuk dicatat bahwa Momuri tidak mengatakan mereka pernah menyetujui permintaan ini. Mereka hanya menyatakan bahwa mereka “sering diminta” melakukannya. Tampaknya, Momuri tetap fokus pada peran aslinya sebagai jasa perantara resign, bukan jasa perantara pemecatan.
Via Soranews24
