Halo Nakama dan penggemar Chainsaw Man! Siapa sangka kekuatan sebuah film anime bisa mengubah sudut kota biasa menjadi destinasi wisata dadakan yang penuh emosi?
Baru-baru ini, sebuah bilik telepon umum (public phone booth) yang terletak di daerah Jimbocho, Tokyo, mendadak berubah menjadi titik panas pariwisata otaku. Fenomena ini dipicu oleh kesuksesan besar film “Chainsaw Man: Reze Arc” yang baru saja rilis.
Setelah film tersebut meraup pendapatan kotor lebih dari 10 miliar Yen (sekitar Rp1,06 triliun) di box office, ratusan penggemar berbondong-bondong mendatangi lokasi ini. Mereka ingin mereka ulang salah satu adegan paling menyayat hati sekaligus romantis dari cerita tersebut.
Bunga Gerbera dan Antrean Panjang
Lokasi telepon umum tersebut kini dipenuhi dengan bunga Gerbera. Bagi kalian yang sudah nonton atau baca manganya, pasti tahu kalau bunga ini adalah simbol “kepolosan” dan “perpisahan” yang diberikan Reze kepada Denji.
Pemandangan di sekitar lokasi pun jadi unik:
- Pengunjung Internasional: Tidak hanya warga lokal, turis internasional—terutama dari Korea Selatan—rela mengantre panjang hanya untuk meletakkan bunga tribut, berfoto, dan merasakan kembali momen emosional antara Denji dan Reze.
- Layanan Suci di Google Maps: Di Google Maps, lokasi telepon umum ini bahkan sudah dibanjiri ulasan emosional dari fans yang melabelinya sebagai “tempat suci” (sacred place).
Respon Perusahaan Telepon: Terima Kasih, Tapi…
Tumpukan bunga yang semakin menggunung akhirnya memaksa NTT East Japan, perusahaan pemilik bilik telepon tersebut, untuk angkat bicara.
Sikap mereka cukup diplomatis. Di satu sisi, mereka berterima kasih atas antusiasme penggemar. Namun di sisi lain, mereka mengingatkan bahwa meninggalkan benda (termasuk bunga) di fasilitas umum secara teknis dianggap sebagai membuang sampah sembarangan.
Menariknya, sebuah papan pengumuman anonim (kemungkinan besar dipasang oleh sesama penggemar yang peduli) muncul di bilik tersebut dengan pesan yang sangat menyentuh dan tepat sasaran:
“Dia (Reze) juga membawa pergi bunga yang dia terima bersamanya. Jika tempat ini penting bagimu, gunakanlah telepon ini untuk menelepon seseorang dan jangan biarkan teknologi ini mati, tapi tolong bawa pulang bungamu.”
Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya dampak visual dari studio MAPPA. Adegan dalam film tersebut berhasil menghidupkan kembali minat orang terhadap teknologi yang hampir punah seperti telepon umum, meskipun mungkin hanya untuk beberapa bulan saja.
Via SomosKudasai



