Anime

Fakta Menyedihkan Chainsaw Man: Reze Merasakan Sakit Setiap Kali Meledak!

Fakta Menyedihkan Chainsaw Man: Reze Merasakan Sakit Setiap Kali Meledak!

Halo Nakama dan sobat pencinta Chainsaw Man! Kita mungkin selama ini mengira Reze adalah mesin pembunuh yang sempurna dan tanpa rasa takut. Namun, ternyata kita salah besar.

Tatsuki Fujimoto, sang mangaka jenius di balik serial ini, baru saja mengungkapkan sebuah fakta tersembunyi yang mengubah cara pandang kita terhadap setiap adegan aksi di film Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc. Informasi ini menjelaskan bahwa sang Hybrid yang dikenal sebagai Bomb Devil (Iblis Bom) ini tidaklah sekuat atau “mati rasa” seperti yang terlihat dari sikap luarnya.

Kebenaran di Balik Kekuatan “Bomb Girl”

Informasi mengejutkan ini terungkap melalui sebuah buku spesial yang didistribusikan bersamaan dengan penayangan film Chainsaw Man: The Movie – Reze Arc.

Baca jugaTatsuki Fujimoto Ungkap Penyesalan dan “Rahasia” Tragis di Balik Ending Arc Reze ‘Chainsaw Man’

Dalam buku tersebut, Fujimoto mengonfirmasi bahwa setiap kali Reze menarik pin di lehernya dan meledakkan kepalanya sendiri, dia merasakan rasa sakit yang tajam dan intens.

Bagi kita para penonton, adegan Reze meledakkan kepalanya mungkin terlihat sebagai tontonan visual yang spektakuler dan badass. Namun, bagi Reze, itu bukanlah sekadar mekanika game atau jurus anime biasa; itu adalah siksaan fisik yang nyata dan berulang.

Mengapa Reze Membenci Pertarungan?

Fakta ini memberikan jawaban logis dan emosional mengapa Reze, meskipun dilatih sebagai senjata mematikan, selalu terlihat enggan untuk bertarung kecuali jika benar-benar terpaksa.

Rasa sakit fisik yang konstan setiap kali menggunakan kekuatannya menjelaskan keragu-raguannya. Kalimat tersirat dari pengungkapan ini sungguh menyayat hati: “Dia sebenarnya tidak suka bertarung.”

Memanusiakan Sang “Monster” Uni Soviet

Reze dibesarkan di laboratorium Uni Soviet sebagai eksperimen militer yang dirancang khusus untuk menjadi kekuatan penghancur. Namun, Fujimoto—yang selalu setia dengan gaya penceritaannya yang mengeksplorasi kondisi manusia melalui horor—mengingatkan kita bahwa para Hybrid tidaklah kebal secara emosional maupun fisik.

Ada dua poin penting dari pengungkapan ini:

  1. Harga dari Keabadian: Sama seperti Denji yang terus-menerus dimutilasi, “keabadian” Reze dibayar dengan siksaan abadi yang perlahan menggerus kemanusiaannya.
  2. Paralel yang Kejam: Para penggemar mulai melihat kemiripan nasib Reze dengan karakter lain seperti Quanxi, yang menunjukkan bahwa Fujimoto menggunakan rasa sakit fisik ini sebagai kritik terhadap pengagungan kekerasan di dunianya sendiri.

Perspektif Baru untuk Filmnya

Meskipun informasi ini awalnya terungkap di Jepang pada November 2025, dampaknya bagi komunitas internasional baru terasa sekarang.

Menonton ulang arc Reze kini tidak lagi terasa seperti sekadar pertarungan shonen yang seru. Ini terasa seperti perjuangan putus asa dari seseorang yang hanya ingin berhenti merasakan sakit dan melarikan diri bersama cowok yang dia sukai.

Sekarang setelah mengetahui fakta ini, apakah kalian akan melihat pertarungan terakhir Reze dengan mata yang sama, atau justru dengan rasa iba?

Via SomosKudasai


Bacaan Lebih Lanjut
Komentar