Halo pengamat jejepangan dan dunia politik! Suasana politik di Jepang sedang memanas setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan pemilihan umum dadakan (snap election) yang akan digelar pada bulan Februari ini.
Seperti biasa, panggung politik Jepang yang padat mulai diwarnai oleh kandidat-kandidat unik, mulai dari partai pinggiran hingga aksi cari perhatian yang gila-gilaan. Namun, ada satu nama yang mencuri perhatian publik, bukan karena sensasi anehnya, melainkan latar belakangnya.
Mantan idol dari grup dela, Nana Matsuura, resmi menanggalkan kostum panggungnya dan mengenakan setelan jas formal untuk memperebutkan kursi di parlemen.
Dari Panggung Musik ke Panggung Politik

Nana Matsuura baru saja keluar dari grupnya, dela, serta agensinya minggu lalu. Langkah drastis ini diambil demi fokus penuh menjadi kandidat dalam pemilihan umum mendatang.
Matsuura maju sebagai kandidat untuk Japan Innovation Party (Ishin). Bagi yang belum tahu, Ishin adalah partai konservatif yang memiliki basis kekuatan sangat besar di wilayah Kansai, meskipun masih berjuang untuk mendobrak popularitas secara nasional. Kekuatan mereka di Kansai terbukti krusial karena jumlah kursi mereka membantu menjaga Partai Demokrat Liberal (LDP) tetap berkuasa setelah hasil pemilu sebelumnya yang biasa-biasa saja.
Meskipun diprediksi LDP dan Ishin akan bekerja sama kali ini dengan tidak menempatkan kandidat yang saling berlawanan di kursi DPR tertentu, distrik di Aichi tempat Matsuura mencalonkan diri tampaknya bukan salah satunya. Artinya, ia akan menghadapi persaingan yang cukup ketat.
Kandidat Termuda dalam Sejarah Baru

Hal yang paling mencolok dari pencalonan ini adalah usia Matsuura. Ia baru berusia 25 tahun.
Di Jepang, 25 tahun adalah usia minimum yang diperbolehkan hukum untuk menjadi kandidat politik. Ini menandakan bahwa Jepang kini memasuki era baru di mana para pembuat undang-undangnya tidak lagi lahir di abad ke-20, melainkan generasi yang lahir di abad ke-21.
Bukan Sekadar Modal Tampang
Jangan salah sangka, Matsuura bukan hanya mengandalkan popularitas masa lalunya sebagai idol. Ia memiliki latar belakang akademis yang solid. Matsuura adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Nanzan, sebuah perguruan tinggi swasta di Aichi. Sebelum terjun ke politik, ia juga pernah bekerja di sebuah perusahaan IT.
Keseriusannya terlihat dari perubahan citranya di media sosial, di mana ia kini tampil dengan setelan jas yang tampak serius dan profesional.
Visi dan Misi: Reformasi yang Menyakitkan?
Dalam pernyataan resminya setelah ditunjuk sebagai kepala cabang Japan Restoration Party (nama lain Ishin) untuk Distrik Aichi ke-9 (meliputi Kota Tsushima, Inazawa, Aisai, Yatomi, Ama, dan Distrik Kaifu), Matsuura menegaskan tekadnya:
“Saya berusia 25 tahun dan, sebagai anggota generasi muda, saya bertekad untuk mewujudkan politik yang bertanggung jawab demi masa depan. Saya akan mendorong revitalisasi ekonomi, langkah-langkah untuk memerangi penurunan angka kelahiran, dan reformasi pendidikan, dengan fokus pada reformasi yang menyakitkan.”
Tren Idol Banting Setir ke Politik
Langkah karier atau “pivot” seperti ini sering kali dimotivasi oleh faktor finansial, mengingat gaji sebagai politisi di Jepang jauh lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata seorang idol.
Matsuura tergolong sangat muda untuk langkah ini. Biasanya, idol gravure atau musik yang lebih senior baru beralih ke politik ketika karier hiburan mereka mulai meredup. Contoh sukses sebelumnya adalah mantan idol gravure Chisato Morishita dan Eriko Imai dari grup legendaris Speed.
Apakah pertaruhan Nana Matsuura akan berhasil? Kita akan mengetahui jawabannya pada tanggal 8 Februari, saat para pemilih lokal menuju tempat pemungutan suara.
