Halo sobat travelers dan pengamat berita internasional! Ada kabar yang cukup mengejutkan datang menjelang perayaan Imlek tahun ini.
Jepang, yang biasanya kebanjiran turis China saat libur panjang Tahun Baru Imlek, mungkin akan melihat pemandangan yang berbeda di tahun 2026 ini.
Kementerian Luar Negeri China baru saja mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk menahan diri agar tidak bepergian ke Jepang. Pengumuman ini dirilis tepat sebelum musim liburan besar dimulai. Wah, kira-kira kenapa ya?
Alasan Resmi: Kriminalitas dan Gempa Bumi?
Dalam pernyataan resminya yang dirilis hari Senin lalu, Kementerian Luar Negeri China menyebutkan dua alasan utama: kriminalitas dan gempa bumi.
“Menjelang Tahun Baru Imlek, kami mengimbau warga China untuk menahan diri bepergian ke Jepang untuk sementara waktu,” tulis pernyataan tersebut.
Pihak kementerian mengklaim bahwa belakangan ini keamanan publik di Jepang sedang tidak stabil dan banyak insiden kejahatan yang menargetkan warga negara China. Selain itu, mereka juga menyebutkan adanya gempa bumi yang terjadi secara beruntun, sehingga warga China di sana menghadapi ancaman serius terhadap keselamatan mereka.
Namun, SoraNews24 mencatat ada keanehan dalam alasan ini. Tidak ada lonjakan kejahatan yang signifikan terhadap warga asing di Jepang baru-baru ini. Selain itu, meskipun Jepang memang negara rawan gempa (seperti gempa di Prefektur Aomori pada 8 Desember lalu), tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Satu-satunya ancaman keselamatan “besar” yang jadi perbincangan di Jepang tahun lalu sebenarnya adalah beruang, tapi mereka sedang hibernasi saat musim dingin ini.
Aroma Politik di Balik Larangan
Banyak pihak menduga ini bukan sekadar masalah keamanan, melainkan masalah politik.
Kilas balik sedikit ke musim gugur lalu, pemerintah China sempat marah besar atas komentar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyatakan dukungan terhadap Taiwan. Sebagai balasan, pada bulan November, pemerintah dan kedutaan besar China di Tokyo sudah mulai mengeluarkan imbauan serupa.
Langkah terbaru menjelang libur Imlek selama sembilan hari (mulai 17 Februari 2026) ini dilihat sebagai upaya intimidasi ekonomi. Tujuannya? Menekan industri pariwisata Jepang agar pemerintah Jepang melunakkan sikapnya terhadap isu Taiwan. Biasanya, agen perjalanan China (yang lebih mudah ditekan pemerintah) membawa rombongan tur besar yang menyumbang devisa besar bagi Jepang.
Apakah Jepang Akan Sepi?
Ternyata, imbauan ini mungkin tidak seefektif yang diharapkan China.
Meskipun ada penurunan pelanggan di toko-toko tertentu yang biasanya mengandalkan turis China, destinasi wisata populer di Jepang tidak berubah menjadi kota hantu.
Ada dua alasan utamanya:
- Minat Global yang Tinggi: Dunia sedang demam budaya Jepang, baik modern maupun tradisional.
- Nilai Tukar Yen yang Rendah: Mata uang Yen sedang murah-murahnya, membuat liburan ke Jepang jadi sangat terjangkau bagi turis internasional lainnya.
Bahkan, isu overtourism (kelebihan turis) sudah menjadi topik panas di Jepang setahun terakhir. Hotel, restoran, dan transportasi umum sudah hampir penuh sesak. Jadi, kekosongan yang ditinggalkan oleh turis China kemungkinan besar akan langsung diisi oleh wisatawan dari negara lain yang memanfaatkan momen Yen yang sedang murah.
Jadi, alih-alih membuat Jepang “bertekuk lutut”, absennya turis China mungkin justru membantu mengurangi kepadatan di tempat-tempat wisata populer seperti Tokyo dan Kyoto.
Via SoraNews24
