Anime

Produser Gachiakuta Ungkap Sulitnya Negosiasi Promosi dengan Lisensor Global

Produser Gachiakuta Ungkap Sulitnya Negosiasi Promosi dengan Lisensor Global

Siapa sangka, di balik kesuksesan global anime Gachiakuta, ada drama negosiasi yang cukup alot antara tim produksi Jepang dengan para mitra lisensi di luar negeri. Hal ini diungkapkan langsung oleh produser anime tersebut, Hirooki Iwanami.

Ternyata, menyatukan visi untuk strategi promosi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada perbedaan budaya kerja yang cukup mencolok antara komite produksi Jepang dan pemegang lisensi global, yang memaksa mereka melakukan pertemuan berkali-kali demi menjembatani kesenjangan tersebut.

Benturan Visi: “Vertical Launch” vs “Wait-and-See”

Inti masalahnya ada pada perbedaan filosofi marketing.

Baca jugaBoruto Akhirnya Ungkap Sisi Gelap Jutsu “God-Tier” Ini

Strategi Tim Jepang (Vertical Launch): Iwanami dan timnya ingin tancap gas sejak awal. Bagi mereka, kunci kesuksesan ada pada “Vertical Launch”, yaitu menciptakan hype sebesar-besarnya tepat saat episode pertama rilis. Mereka ingin memastikan sebanyak mungkin orang menonton episode perdana dan menciptakan percakapan viral saat itu juga.

Strategi Lisensor Global (Wait-and-See): Sebaliknya, mitra lisensi di luar negeri (seperti platform streaming) cenderung menggunakan pendekatan “Wait-and-See”. Biasanya, mereka baru akan mempromosikan sebuah anime secara gencar setelah anime tersebut tayang dan melihat reaksi positif dari penggemar. Mereka baru akan meningkatkan komunikasi pemasaran secara bertahap jika animenya terbukti populer.

Iwanami mengakui, “Ini membuat negosiasi menjadi sulit, dan membutuhkan banyak pertemuan untuk menjembatani kesenjangan tersebut.”

Produser lain dari Kodansha, Yuria Amano, menambahkan bahwa diskusi panjang mengenai poin ini mungkin menjadi “titik balik utama” bagi kesuksesan anime ini.

Bukti di Lapangan: Perang Akun X (Twitter)

Perbedaan strategi ini terlihat jelas jika kita membandingkan aktivitas media sosial.

  • Akun Global (Dikelola Kodansha): Sangat agresif. Sebelum dan pada hari penayangan perdana, akun ini memposting materi promosi jauh lebih banyak (lebih dari 100 postingan bahasa Inggris di bulan-bulan sebelum rilis).
  • Akun Resmi (Dikelola Crunchyroll): Lebih santai. Akun ini dibuat sebulan lebih awal dari akun Kodansha, namun jumlah postingannya jauh lebih sedikit dibandingkan gempuran promosi dari pihak Kodansha.

Strategi yang Terbayar Lunas

Meskipun negosiasinya alot, kerja keras Iwanami dan tim untuk mendorong promosi awal yang agresif membuahkan hasil manis.

Kampanye global bernama “Gachiakuta World Takeover” akhirnya berjalan, di mana pemberi lisensi dan pemegang lisensi bersatu mempromosikan anime ini lewat trailer dan teaser. Hasilnya? Akun global yang dikelola Kodansha mengklaim bahwa Gachiakuta menjadi anime Crunchyroll yang paling banyak ditonton pada musim Summer 2025. Klaim ini diperkuat oleh laporan terbaru dari Dentsu.

Perbandingan dengan Strategi Netflix

Artikel ini juga menyoroti bahwa pendekatan “tunggu dan lihat” bukan hanya milik mitra Gachiakuta. Netflix juga menerapkan strategi serupa.

Dalam wawancara dengan Nikkei XTrend, VP Netflix Kim Minyoung menjelaskan bahwa mereka memprioritaskan promosi awal hanya di pasar yang diprediksi akan sukses besar (seperti Jepang dan AS untuk judul Sakamoto Days). Untuk negara lain seperti Indonesia, mereka baru akan meningkatkan promosi jika data real-time menunjukkan adanya pertumbuhan penonton.

Namun, strategi pasif ini kerap dikritik. Justin Leach, produser anime Leviathan, pernah mengeluh bahwa studio seharusnya diberi opsi untuk memasarkan judul mereka secara mandiri jika platform streaming tidak memberikan dukungan pemasaran yang cukup.

Via Anime Corner


Bacaan Lebih Lanjut
Komentar