Anime

Tatsuki Fujimoto Ungkap Penyesalan dan “Rahasia” Tragis di Balik Ending Arc Reze ‘Chainsaw Man’

Tatsuki Fujimoto Ungkap Penyesalan dan “Rahasia” Tragis di Balik Ending Arc Reze ‘Chainsaw Man’

Buat kalian penggemar Chainsaw Man, pasti setuju kalau Arc Reze (Bomb Girl Arc) adalah salah satu bagian paling menyakitkan di seri ini. Ternyata, rasa sakit itu bukan cuma dirasakan oleh kita sebagai pembaca, tapi juga oleh sang kreator sendiri, Tatsuki Fujimoto.

Baru-baru ini, sebuah fakta menarik kembali mencuat ke permukaan dan menjadi perbincangan hangat di kalangan fans. Hal ini dipicu oleh perilisan film Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc (2025) yang membuka luka lama tentang hubungan tragis antara Denji dan Reze.

Ternyata, ada rahasia di balik ending tersebut yang sebenarnya sudah direncanakan dengan sangat matang—dan kejam—oleh Fujimoto.

Baca jugaFakta Menyedihkan Chainsaw Man: Reze Merasakan Sakit Setiap Kali Meledak!

Obsesi Terhadap Tragedi: “Maldición” untuk Pembaca

Sebuah kutipan lama dari Fujimoto yang berasal dari buklet promosi tahun 2020 kembali viral. Dalam kutipan tersebut, Fujimoto secara blak-blakan mengungkapkan filosofinya tentang romansa dalam manga shonen, yang ternyata sangat dipengaruhi oleh film-film melankolis seperti Jin-Roh.

Berikut adalah pengakuan Fujimoto mengenai kenapa ia tidak membiarkan Denji dan Reze bersatu:

“Reze keluar dari cerita di sini. Saya suka ketika protagonis dan heroine-nya tidak berakhir bersama. Saya ingin mereka membawa beban itu selamanya. Karena itulah, saya benar-benar tidak ingin Denji dan Reze bersatu, atau Reze menjadi sekutu.”

Bagi sang mangaka, perpisahan yang tragis adalah elemen penting untuk menjaga integritas tema karyanya. Tujuannya sangat jelas: ia ingin kehadiran Reze terus menghantui pikiran pembaca seperti sebuah “kutukan yang tak hilang” (persistent curse). Ia lebih memprioritaskan rasa rindu yang tak tersampaikan daripada memberikan happy ending klise yang justru bisa menghilangkan dampak emosional ceritanya.

Penyesalan Sang Penulis: “Saya Nggak Bisa Tidur”

Bagian yang paling ironis (dan agak lucu) adalah reaksi Fujimoto sendiri setelah melihat hasil karyanya diadaptasi menjadi film.

Setelah menonton film adaptasi produksi MAPPA yang rilis Oktober 2025 lalu, Fujimoto seolah merasakan “senjata makan tuan”. Film tersebut menggambarkan konfrontasi eksplosif dan takdir fatal Reze dengan sangat akurat, sampai-sampai Fujimoto sendiri merasa frustrasi dengan campur tangan Makima dalam plot tersebut.

Fujimoto mengungkapkan bahwa setelah menonton filmnya, ia sampai “tidak bisa tidur” karena terus memikirkan kemungkinan reuni bahagia antara Denji dan Reze yang tidak pernah terjadi.

Melihat kondisi Fujimoto yang galau karena ceritanya sendiri, editornya, Shihei Lin, dengan bercanda harus mengingatkannya pada realita pahit:

“Kamu sendiri lho yang memutuskan untuk menggambarnya seperti itu.”

Anekdot ini benar-benar memanusiakan sosok Fujimoto yang sering dianggap “kacau” oleh fansnya. Saking galaunya, Fujimoto bahkan dikabarkan sempat menggambar ilustrasi alternatif dengan ending bahagia, sekadar untuk memproses emosinya sendiri.

Rasa Sakit yang Diperlukan

Reaksi komunitas penggemar pun campur aduk antara sedih dan kagum. Banyak yang menyayangkan kenapa hybrid dari Uni Soviet ini ditakdirkan gagal bersama Denji sejak awal. Namun, tak sedikit juga yang mengakui bahwa “romansa terkutuk” inilah yang menaikkan kualitas narasi Chainsaw Man.

Reze tetap menjadi sosok “the one that got away”, sebuah figur tragis yang—sesuai keinginan Fujimoto—terus membuat audiens terobsesi bertahun-tahun kemudian.

Gimana menurut kalian? Apakah kalian tim happy ending, atau setuju kalau tragedi justru bikin cerita makin memorable?

Via SomosKudasai


Bacaan Lebih Lanjut
Komentar